Kupatan, Tradisi Jawa peninggalan Wali yang masih lestari

Foto Suasana Kenduren Kupat di Mushola kampung

Jombang – Kupatan, adalah istilah dalam tradisi Islam jawa yang merupakan ungkapan rasa syukur sekaligus sebagai penanda saling memaafkan satu sama lain Tradisi ini dilaksanakan setelah menjalankan puasa sunnah syawal selama enam hari (2-7 syawal). pada hari kedelapan Syawal dirayakan dengan makan ketupat bersama keluarga dan kerabat. 

Setiap orang yang ditemui akan disuguhi ketupat pada hari itu dan diharuskan memakannya sebagai pertanda sudah rela dan saling memaafkan. Tradisi ini di beberapa daerah dikenal dengan istilah Riyoyo Kupat.

Sejarah Lebaran Ketupat diperkenalkan pertama kali oleh Sunan Kalijaga.

Sunan Kalijaga memperkenalkan ketupat sebagai makanan khas pasca Lebaran yang kemudian menjadi simbol perayaan hari raya Idul Fitri pada masa kerajaan Demak yang dipimpin oleh Raden Patah.

Selanjutnya, tradisi Lebaran Ketupat ini dilambangkan sebagai simbol kebersamaan dengan memasak ketupat dan mengantarkannya kepada sanak kerabat.

dilansir dari laman nu.or.id, budayawan Zastrouw Al-Ngatawi menyebut bahwa tradisi kupatan (Lebaran Ketupat) yang muncul awal abad ke-16 M, pada era Wali Songo dengan memanfaatkan tradisi slametan yang sudah berkembang mengakar di kalangan masyarakat Nusantara.

Tradisi ini kemudian dijadikan sarana untuk mengenalkan ajaran Islam, terutama mengenai cara bersyukur kepada Allah SWT, bersedekah, dan bersilaturahmi di hari lebaran.

Filosofi dalam Perayaan Lebaran Ketupat tidak jauh dari berbagai nilai filosofi dalam sebuah ketupat, khususnya bagi orang Jawa.

Kupat Janur yang telah direbus dan siap dihidangkan 

Ketupat adalah makanan berbahan dasar beras yang dibungkus janur kuning dengan bentuk segi empat. Ketupat dalam filosofi Jawa memiliki makna ‘ngaku lepat’ yang artinya mengakui kesalahan. Bagian-bagian dari ketupat dan lauk pendampingnya juga mengandung filosofi tersendiri.

Baca Juga  6 Remaja pemilik akun Medsos ditangkap polisi

Isi ketupat yaitu beras berwarna putih adalah bentuk harapan agar kehidupannya dipenuhi dengan kemakmuran, sekaligus mencerminkan bahwa dengan memohon maaf atas segala kesalahan maka diharapkan jiwa kita bisa seputih isi ketupat tersebut.

Janur kuning yang membungkus ketupat menurut filosofi Jawa merupakan kepanjangan dari ‘sejatine nur’ yang melambangkan seluruh manusia berada dalam kondisi yang bersih dan suci setelah melaksanakan ibadah puasa. Selain itu, masyarakat Jawa juga percaya bahwa janur memiliki kekuatan magis untuk tolak bala.

Selanjutnya, anyaman ketupat yang rumit memiliki makna bahwa hidup manusia itu juga penuh dengan liku-liku, pasti ada kesalahan di dalamnya. Sementara bentuk segi empat dari ketupat menjadi gambaran empat jenis nafsu dunia yaitu nafsu emosional, nafsu untuk memuaskan rasa lapar, nafsu untuk memiliki sesuatu yang indah, dan nafsu untuk memaksa diri.

Sehingga seseorang orang yang memakan ketupat menggambarkan bahwa ia telah bisa mengendalikan keempat nafsu tersebut setelah melaksanakan ibadah puasa.

lauk pendamping sajian ketupat dari santan (jawa : Santen), menurut filosofi Jawa memiliki makna ‘pangapunten’ atau memohon maaf atas segala kesalahan.

Dari sajian tersebut kemudian dikenal istilah ‘mangan kupat nganggo santen, menawi lepat nyuwun pangapunten’ yang artinya ‘makan ketupat pakai santan, bila ada kesalahan mohon dimaafkan’.

Adanya nilai filosofi dalam tradisi ini juga bertujuan agar tidak disalahgunakan untuk sesuatu yang syirik, dan untuk melestarikan syiar Islam yang berciri khas akulturasi budaya.

Dari makna yang terkandung dalam tradisi lebaran ketupat, dapat dipahami sebagai wujud budaya luhur yang penuh kearifan serta mengandung harmoni budaya untuk memaknai kesempurnaan hakekat idul Fitri.

Dibanyak daerah tradisi Lebaran Ketupat dilakukan dengan berkumpul di mushola atau masjid, membaca doa-doa untuk leluhur, bermaaf-maafan, dan saling bertukar hidangan yang berbahan dasar ketupat.

Baca Juga  Kepala Desa di wilayah Mojoagung, dilaporkan polisi karena melakukan pelecehan seksual terhadap warganya

Dalam pelaksanaannya tidak ada unsur-unsur ibadah sama sekali, namun hanya sekedar berkumpul, berdo’a saling bertukar hidangan ketupat atau menghantar sedekah makanan berbentuk ketupat kepada tetanga, dan sanak saudara.

Disini dapat dipahami bahwa tujuan tradisi Lebaran Ketupat adalah sebagai bagian dari syiar Islam yang berciri khas akulturasi budaya dan lebih dimaknai sebagai simbol kebersamaan.

Alangkah hebatnya cara dakwa para wali dengan mengintegrasikan ajaran Islam ke dalam budaya Jawa dengan tetap menghormati kearifan lokal, budaya, dan simbol yang ada di masyarakat. (jj)

Writer: jejeEditor: admin